BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Sensasi adalah proses menangkap
stimuli dan tahap paling awal dalam penerimaan informasi sedangkan persepsi
adalah proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh
pengetahuan baru. Dengan kata lain persepsi mengubah sensasi menjadi informasi.
pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan
penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan
dengan kegiatan alat indera termasuk kedalam sensasi. Sedangkan suatu proses
aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan
faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian
dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut termasuk kedalam
persepsi. Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau
disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan
salah satu sumber kesalahan persepsi.Hubungan sensasi dengan persepsi sudah
jelas.Sensasi adalah bagian dari persepsi. Tetapi didalam prosesnya sensasi dan
presepsi berbeda, kalau sensas peneriamaan stimulus lewat inderasedangkan
persepsi yaitu menafsirkan stimulus yang telah ada didalam otak.
Kemampuan berfikir,
pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi dan
memsesasikan sesuatu stimulus, hasil persepsi dan sensasi mungkin akan berbeda
antara individu satu dengan individu lain. Karena persepsi dan sensasi bersifat
individual.contohnya pada perbeadaan kapasitas alat indera menyebabkan
perbedaan dalam memilih pekerjaan atau jodoh, mendengarkan musik, atau memutar
radio. Yang lebih jelasnya, sensasi mempengaruhi persepsi, jadi keduanya saling
berhubungan satu sama lain .
2.
Tujuan
Mengetahui secara global tentang
sensasi dan persepsi dilihat dari segi sosial, psikologi maupun yang lainya
1) Mengetahui pengertian dari sensasi
dan persepsi
2) Mengetahui macam-macam dari sensasi
dan persepsi
3) Mengetahui proses terjadinya sensasi
dan persepsi
4) Mengetahui Perpedaan dari sensasi
dan persepsi
5) Mengetahui aplikasi sensasi dan
persepsi
6) Konsep dasar sensasi
7) Hubungan persepsi dengan system kerja otak
dan syaraf otak
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sensasi
Sensasi pada dasarnya merupakan
tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi, atau dalam bahasa inggrisnya
sensation, berasal dari kaca latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan
indra, atau intelek. Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek
kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indra kita, seperti
temperatur tinggi, warna hijau, rasa nikmatnya sebatang coklat.sebuah sensasi
dipandang sebagai kandungan atau objek kesadaran puncak yang privat dan
spontan.
Benyamin B. Wolman (1973, dalam
rakhmat, 1994) menyebutkan sensasi sebagai “pengalaman elementer yang segera,
yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan
terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra.Apa pun definisi
sensasi, fungsi alat indra dalam menerima informasi dari lingkungan sangat
penting. Melalui alat indra, manusia dapat memahami kualitas fisik
lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indralah, manusia memperoleh
pengetahuan dan semua kemapuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Tanpa alat
indra, manusia sama, bahkan mungkin rendah lebih dari rumput-rumputan, karena
rumput dapat juga mengindra cahaya dan humiditas
( Lefrancois, 1974,
dalam rahmat, 1994 ).
B.
PengertianPersepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang
sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang
satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara
lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain
tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung
bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada
kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh
persepsinya.
hasil interaksi antara dua faktor, yaitu faktor rangsangan
sensorik yang tertuju kepada individu atau seseorang dan faktor pengaruh yang
mengatur atau mengolah rangsangan itu secara intra-psikis. faktor-faktor
pengaruh itu, dapat bersifat biologis, sosial, dan psikologis. Karena adanya
proses pengaruh-mempengaruhi antara kedua faktor tadi, di mana di dalamnya
bergabung pula proses asosiasi, maka terjadilah suatu hasil interaksi tertentu
yang bersifat "gambaran psikis".
Ø Persepsi Sosial
Persepsi
sosial (social perception ) : suatu proses ( tepatnya, proses-proses ) yang
kita gunakan untuk mencoba memahami kehidupan, kita sering kali melakukan hal
ini. Menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk mencoba mengarti perilaku orang
lain – apa yang mereka sukai sebagai individu, mengapa mereka bertingkah laku (
atau tidak bertingkah laku ) tertentu dalam suatu situasi dan bagaimana prilaku
mereka nanti dalam situasi yang berbeda.
C.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi
Sensasi
Bagian penting dari teori deteksi sinyal yang berpengaruh
besar terhadap psikologi adalah implikasinya dalam pembelajaran ambang
penginderaan. Berdasarkan teori tersebut disimpulkan bahwa ambang
penginderaa bukan hanya kekuatan sinyal. Faktor-faktor yang mempengaruhi ambang
penginderaan adalah :
(a)
kekuatan sinyal;
(b)
sifat-sifat tugas/pekerjaan;
(c)
harapan individu;
(d)
konsekuensi-konsekuensi berupa penghargaan atau hukuman;
(e)
norma/standar/ukuran yang dikenakan individu.
Pengetahuan tentang factor-faktor yang mempengaruhi ambang
penginderaan manusia di atas memungkinkan kita untuk memahami mengapa dan
bagaimana individu hanya menerima stimulus/informasi tertentu darin sekian
banyak stimulus/informasi yang lain dari dunia disekelilingnya.
D. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Presepsi
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi persepsi
diantaranya :
- Ketersediaan
informasi sebelumnya; ketiadaan informasi ketika seseorang menerima
stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam mempersepsi.
Oleh karena itu, dalam bidang pendidikan misalnya, ada materi pelajaran
yang harus terlebih dahulu disampaikan sebelum materi tertentu. Seseorang
yang datang di tengah-tengah diskusi, mungkin akan menangkap hal yang
tidak tepat, lebih karena ia tidak memiliki informasi yang sama dengan
peserta diskusi lainnya. Informasi juga dapat menjadi cues untuk
mempersepsikan sesuatu.
- Kebutuhan;
seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya
saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan
ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.
- Pengalaman
masa lalu; sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat
mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan sesuatu. Pengalaman yang
menyakitkan ditipu oleh mantan pacar, akan mengarahkan seseorang untuk
mempersepsikan orang lain yang mendekatinya dengan kecurigaan tertentu.
Contoh lain yang lebih ekstrim, ada orang yang tidak bisa melihat warna
merah [dia melihatnya sebagai warna gelap, entah hitam atau abu-abu tua]
karena pernah menyaksikan pembunuhan. Di sisi lain, ketika seseorang
memiliki pengalaman yang baik dengan bos, dia akan cenderung
mempersepsikan bosnya itu sebagai orang baik, walaupun semua anak buahnya
yang lain tidaksenangdengansibos.
Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi
adalah berturut-turut: emosi ,impresi dan konteks.
- Emosi;
akan mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada
suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya (menjadi figure)
adalah emosinya tersebut. Seseorang yang sedang tertekan karena baru
bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan
mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.
- Impresi;
stimulus yang salient / menonjol, akan lebih dahulu mempengaruhi
persepsi seseorang. Gambar yang besar, warna kontras, atau suara yang kuat
dengan pitch tertentu, akan lebih menarik seseorang untuk
memperhatikan dan menjadi fokus dari persepsinya. Seseorang yang
memperkenalkan diri dengan sopan dan berpenampilan menarik, akan lebih
mudah dipersepsikan secara positif, dan persepsi ini akan mempengaruhi
bagaimana ia dipandang selanjutnya
- Konteks;
walaupun faktor ini disebutkan terakhir, tapi tidak berarti kurang
penting, malah mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara sosial,
budaya atau lingkungan fisik. Konteks memberikan ground yang sangat
menentukan bagaimana figure dipandang. Fokus pada figure
yang sama, tetapi dalam ground yang berbeda, mungkin akan
memberikan makna yang berbeda
E.
Teori
Sensasi
Sensasi (sensation) : mengacu pada pendeteksian dini
terhadap energi dari dunia fisik. Studi terhadap sensasi umunya berkaitan
dengan struktur dan proses mekanisme sensorik. beserta stimulasi yang
mempengaruhi mekanisme-mekanisme tersebut.
Deteksi energy fisik yang di hasilkan atau di pantulkan oleh
benda-benda fisik, sel-sel tubuh yang melakuakan penderteksi ini, organ
inderawi ( mata, telinga, hidung, kulit dan jaringan tubuh ) proses
penginderaan menyadarkan kita akan adanya suara, warna, bentuk dan elemen
kesadaran yang lain. Tanpa sensasi kita tidak dapat menyentuh dalam arti
sesungguhnya dunia nyata.Tapi untuk membuat dunia yang mendera indera kita
menjadi sesuatu yang masuk akal.
Ø Sensasi
Normal
Penerimaan, persepsi dan reaksi adalah 3 komponen setiap
pengalaman sensori. Dalam menjalankan fungsinya organ sensori berkaitan erat
dengan sistem persyarafan yang berfungsi sebagai reseptor dan penghantar
stimulus sehingga tercipta sebuah persepsi yang dapat menimbulkan reaksi dari
individu



Stimulus
Organ sensori
Sel
syaraf Impuls
syaraf

Reaksi
Persepsi Medula spinalis
Otak
Ø Sensasi Murni
Sensasi murni jarang terjadi, jika
mendengar suara aneh, betapapun asingnya, kita akan segera menghubungkannya
dengan suatu bentuknya yang telah kita lihat sebelumnya.sensasi murni itu
terjadi mungkin dalam peristiwa saat rangsangan warna ditunjukkan untuk pertama
kali kepada seseorang yang sejak lahirnya buta, tetapi tiba-tiba dapat melihat
(Mahmud, 1990:41)
F. Teori
Persepsi
Perubahan
dalam pemenuhan kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu yang
berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini akan membawa konsekwensi terhadap
permasalahan keperawatan yang ditegakan pada setiap individu. Meskipun sumber
masalah yang dihadapinya sama, akan tetapi setiap individu memiliki persepsi
dan respon yang berbeda-beda.
Krech dan Crutchfield merumuskan
dalil persepsi, menjadi empat bagian :
- Dalil
persepsi 1: Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Berarti
objek-objek yang mendapatkan tekanan dalam persepsi kita biasanya
objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi
- Dalil
persepsi 2 : Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan
diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya.
Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya
dengan interprestasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita
persepsi.
- Dalil
persepsi 3 : Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur
ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika
individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang
berkaitan dengan sifat kelompok akan diperngaruhi oleh keanggotaan
kelompolmua dengan efek berupa asimilasi atau kontras.
- Dalil
persepsi 4 : Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu
atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari
struktur yang sama. Dalil ini umumnya betul-betul bersifat structural
dalam mengelompokkan objek-objek fisik, seperti titik, garis, atau balok.
Ø Perubahan persepsi
1. Halusinasi
Pencerapan tanpa adanya
rangsang apapun pada panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan
sadar/bangun
2. Ilusi
Interpretasi atau
penilaian yang salah tentang pencerapan yang sungguh terjadi pada panca indera,
mis: bunyi angin didengarnya seperti dipanggil nama, bayangan daun dilihat
seperti orang
3. Depersonalisasi
Perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya
sudah tidak seperti biasa lagi, mis: pengalaman diluar tubuh/ OBE, salah satu
bagian tubuhnya bukan kepunyaannya lagi
4. Derealisasi
Perasaan
aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan kenyataan, mis: merasakan
segala sesuatu seperti dalam mimpi
5. Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi
Mis:
anastesi, parastesi, gg penglihatan, perasaan nyeri, makropsia/mikropsia
6. Gangguan psikofisologik
Gejala atau gangguan pada bagian tubuh yang disebabkan
oleh gangguan emosi,
mis:
pada kulit urtikaria, pada otot dan tulang LBP, pada pernafasan timbul
sesak/asma, padajantung terjadi palpitasi, pencernaan mual/muntah diare,
perkemihan sering berkemih, mata berkunang2, telinga tinitus
7. Agnosia
Ketidakmampuan
untuk mengenal dan mengartikan pencerapan sebagai akibat kerusakan otak.
Ø Amplikasi
Persepsi Melalui Panca Indera
Beragam
stimulus tersebut merupakan dasar dalam pembentukan persepsi yang dating dari
banyak sumber melalui:
1) – Indera penglihatan (visual)
2) – Indera pendengaran (auditori)
3) – Indera perabaan (taktil)
4) – Indera penciuman (olfaktori)
5) – Indera pengecap/rasa (gustatori)
Ø Persepsi
melalui indera penghilatan
Mata
hanyalah merupakan salah satu alat atau bagian yang menerima stimulus, dan
stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya
individu dapat menyadari apa yang dilihat. Secara alur dapat dikemukakan bahwa
proses persepsi berlangsung sebagian berikut :
1. Stimulus mengenai alat indera, ini
merupakan yang bersifat kealamaan ( fisis)
2. Stimulus kemudian dilangsungkan ke
otak oleh syaraf sensoris, proses ini merupakan proses fisiologi
3. Di otak sebagian pusat susunan urat
syaraf terjadilah proses yang akhirnya individu dapat menyadari atau
mempersepsikan tentang apa yang diterima melalui alat indera.proses yang
terjadi dalam otak ini merupakan proses psiklogi
Ø Persepsi
melalui indera pendengaran
Telinga dapat dibagi atas beberapa bagian yang masing-masing mempunyai fungsi
atau tugas sendiri-sendiri, yaitu :
1. Telinga bagian luar : merupakan
bagian yang menerima stimulus dari luar.
2. Telinga
bagian tengah : merupakan bagian yang meneruskan stimulus yang diterima oleh
telinga bagian luar, jadi bagian ini merupakan transformer.
3.
Telinga bagian dalam : merupakann reseptor yang sensitif yang merupakan
saraf-saraf penerima.
Apabila
individu dapat menyadari apa yang di dengar, maka individu dapat mempersepsikan
apa yang didengar, dan terjadilah suatau pengamatan atau persepsi
Ø Persepsi
Melalui Indera Penciuman
Sel-sel
peneriama atau reseptor bau terletak dalam hidung sebelah dalam. Stimulusnya
berujud benda-benda yang bersifat khemis atau gas yang dapat menguap, dan
mengenai alat-alat penerima yang ada dalam hidung, kemudian diteruskan oleh
syaraf sensoris ke otak, dan sebagai respons dari stimulus tersebut orang dapat
menyadari apa yang diciumnya yaitu bau diciumnya.
Ø Persepsi
Melalui Indera pengecap
Indera
pengecapan terdapat di lidah.stimulusnya merupakan benda cair.zat cair itu
mengenai ujung srl penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian
dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya orang dapat
menyadari atau mempersepsikan tentang apa yang dicecap itu. Memgenai rasa ini
ada 4 macam :
Pahit, manis,
asin, asam
Ø Persepsi
Melalui Indera Kulit
Indera ini dapat merasakan rasa
sakit, raabaan, tekanaan dan temperature.Tetapi tidak semua bagian dari kulit
dapat menerima rasa-rasa ini Cuma pada bagian tertentu saja yang dapat
meneriama stimulus-stimulus tertentu.Serta stimulus yang dapat menimbulkan rasa
sakit dapat bersifat khemis maupun electrical dan sebangsanya yang pada
pokoknya stimulus itu cukup kuat menimbulkan kerusakan pada kulit, dan hal ini
menimbulkan rasa sakit.
Ø Tabel Panca indera
Indera
|
Stuktur
|
Stimulus
|
Reseptor
|
Penglihatan
|
Mata
|
Gelombang
cahya
|
Sel
batang dan sell kerucut
|
Pendengaran
|
Telinga
|
Gelombang
suara
|
Sel-sel
rambut
|
Perasa/
pengecapan
|
Lidah
|
Senyawa
kimia
|
Ujung
saraf perasa
|
Penciuman
|
Hidung
|
Senyawa
kimia
|
Sel-sel
rambut
|
Peraba
|
Kulit
|
Tekanan
|
Sel-sel
saraf
|
G.
Proses Sensasi
Sistem saraf mengubah pesan pesan menjadi kode salah satu
kode yaitu kode anatomis.Pertama kali diperkenalkan pada 1826 oleh seorang ahli
fisiologi Johannes muller sebagai doktrin energy syaraf spesifik. Menurut
doktrin,berbagai modalitas sensorik yang berbeda muncul karena sinyal yang
diterima oleh organ indera merangsang beragam jalan syaraf yang menuju area
otak yang beragam pula. Sinyal dari mata menyebabkan impils berjalan sepanjang
saraf optik,menuju ke korteks visual.sinyal dari telinga. Sinyal dari telinga
menyebabkan impuls berjalan dari saraf auditoris menuju ke korteks
auditoris.Gelombang cahaya dan suara menghasilkan sensasi berbeda karena adanya
perbedaan anatomi ini.
Sensasi mengacu pada pendeteksian dini terhadap stimuli.
Serta Sensasi merupakan unsur-unsur pengalaman pancaindera yang
disebabkan perangsang-perangsang diluar manusia, yaitu cahaya, suara, bau,
manis dan sebagainya. Dan hanya sensasi yang mampu kita indralah yang akhirnya
diproseskan oleh reseptor dan oleh pemrosesan kognitif tingkat tinggi.Sistem
sensorik kita memiliki keterbatasan kemampuan manerima sensasi, sehingga dengan
sendirinya pengetahuan kita tentang dunia pun terbatas. Konsep kita mengenai
proses perseptual bahwa pendeteksian dan penginterpretasian sinyal-sinyal
sensori, di tentukan oleh energi stimulus yang dideteksi oleh sistem-sistem
sensorik dan oleh otak dan hasil pemrosesan disimpan dimemori dalam bentuk
pengetahuan ( knowledge), yang akan diguakan kelak dalam suatu kejadian nyata.
H. Proses Persepsi
1. Halusinasi
Pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera
seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun
2. Ilusi
Interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapan
yang sungguh terjadi pada panca indera, mis: bunyi angin didengarnya seperti
dipanggil nama, bayangan daun dilihat seperti orang
3. Depersonalisasi
Perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya
sudah tidak seperti biasa lagi, mis: pengalaman diluar tubuh/ OBE, salah satu
bagian tubuhnya bukan kepunyaannya lagi
4. Derealisasi
Perasaan
aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan kenyataan, mis: merasakan
segala sesuatu seperti dalam mimpi
5. Gangguan somatosensorik pada
reaksi konversi
Mis: anastesi, parastesi, gg penglihatan, perasaan nyeri,
makropsia/mikropsia
6. Gangguan psikofisologik
Gejala atau gangguan pada bagian tubuh yang disebabkan
oleh gangguan emosi,
mis:
pada kulit urtikaria, pada otot dan tulang LBP, pada pernafasan timbul
sesak/asma, padajantung terjadi palpitasi, pencernaan mual/muntah diare,
perkemihan sering berkemih, mata berkunang2, telinga tinitus
7. Agnosia
Ketidakmampuan
untuk mengenal dan mengartikan pencerapan sebagai akibat kerusakan otak.
I.
Perbedaan Sensasi dan Presepsi
Sensasi sering dibedakan dari persepsi, yang melibatkan
penilaian, inferensi, interpretasi, bias, atau prakonseptualisasi, sehingga
bisa salah, sensasi dipandang sebagai pasti, ditentukan secara mendasar, fakta
kasar. Menurut beberapa pendapat, sensasi lebih berkonotasi pada sebuah
hubungan denagn perasaan ( terapi bukan dengan emosi ), sedangkan persepsi
lebih berhubungan dengan kognitif. Sensasi sering digunakan secara sinomin
dengan kesan indrawi, sense datum, sensum, dan sensibilium.
Jadi, proses sensasi dan presepsi itu berbeda. Dalam
ungkapan lain disebutkan,”sensasi ialah penerimaan stimulus lewat alat indra,
sedangkan persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada didalam
otak” (Mahmud, 1990:4). Meskipun alat untuk menerima stimulus itu serupa
pada setiap individu, interpretasinya berbeda.sedangkan mekanisme penginderaan
manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi.
Untuk membedakan sensasi dan persepsi secara lebih jelas,
kita bias membandingkan protet sebuah pemandangan dengan lukisan pemandanagn.
Protet itu berupa pemandanagn sebagaiman yang diterima alat indra, sedangkan
lukisan pemandanagn bergantung pada interpretasinya pelukis.dengan perkataan
lain, mata “menerima”, sedangkan pikiran”memersepsikan”.
J.
KONSEP DASAR SENSASI
Sensasi memiliki 3 konsep dasar, yaitu : Stimuli, Tranduksi, dan Ambang.
- Stimuli (rangsang)
merupakan setiap aspek dari dunia luar yang secara langsung berpengaruh pada
prilaku/kesadaran manusia. Syarat stimuli agar dapat direspons atau dipersepsi
dan disadari oleh individu yang menjadi sasarannya adalah stimuli harus cukup
kekuatannya.Dengan demikian stimulus atau perangsang tersebuat dapat diamati
atau direspon oleh alat indera.
- Tranduksi
(tranduction) merupakan proses perubahan suatu bentuk energi ke dalam
bentuk energi yang lain. Tranduksi menghasilkan potensial aksi yang mengalirkan
informasi mengenai rangsangan melalui sistem syaraf ke otak.Ketika rangsangan
ini sampai ke otak, Informasi bergerak ke bagian yang berhubungan pada korteks
serebrum.
- Ambang adalah
batas minimal rangsang agar pengalaman sensoris bisa terjadi. Ambang terbagi 2
yaitu :
1. Absolute threshold (ambang batas
absolute)
Ambang batas absolute adalah tingkat terdeteksi terkecil dari
stimulus.Setiap sistem sensoris harus dapat mendeteksi tingkat energi yang
berbeda.Energi ini dapat berbentuk rangsangan cahaya, suara, kimia atau
mekanis.Seberapa banyak rangsangan yang di butuhkan agar dapat melihat,
mendengar, mengecap, mencium atau meraba sesuatu? Salah satu cara untuk
menjawab pertanyaan ini adalah dengan menganggap adanya sebuah ambang batas
absolut (absolute threshold), atau jumlah energi rangsangan minimum yang dapat
dideteksi seseorang. Jika energi sebuah rangsangan berada di bawah ambang batas
absolut ini kita tidak dapat mendeteksi rangsangan tersebut (Glasberg dan
Moore, 2006).Sebagai contoh, ambilah sebuah jam yang berdetak; letakkan diatas
meja dan berjalanlah menjauh sampai anda tidak dapat mendengarnya kembali.
Setelah itu dekati kembali sampai anda mendengar detak jam itu lagi. Tahan
posisi anda dan perhatikan bahwa kadang-kadang detak jam ini menghilang dan
anda harus mendekat untuk mencapai ambangnya; pada kesempatan lain mungkin saja
detaknya terdengar keras dan anda dapat mundur menjauh.
2. Difference threshold (ambang batas
perbedaan)
Ambang
batas perbedaan adalah perbedaan pada rangsangan yang diperlukan untuk
membedakan satu rangsangan dengan rangsangan yang lain. Ambang batas perbedaan
ini juga disebut sebagai ”just noticeable difference” atau perbedaan yang dapat
dilihat. Sebagai contoh, ketika musik dimainkan dengan pelan, anda akan dapat
menyadari ketika teman anda menaikkan volumenya bahkan pada jumlah yang kecil.
Akan tetapi pada saat ia menaikkan volume dengan jumlah yang sama ketika musik
dimainkan dengan keras, anda munkin tidak akan menyadarinya. Itu
merupakan ambang perbedaan.Pada ambang batas perbedaan ini kita juga mengenal
sebuah hukum yaitu Hukum Weber (weber law).
Ø Weber law
Weber’s law adalah sebuah prinsip atau hukum yang mengatakan bahwa dua
rangsangan harus berbeda dalam proporsi yang konstan (bukan jumlah yang
konstan) dan dapat dikatakan berbeda. Sebagai contoh, ketika saya meletakkan 1
lilin pada 50 lilin, maka itu tidak akan mempengaruhi cahaya lilin tersebut.
Tetapi ketika saya meletakkan 2 lilin pada 100 lilin maka akan ada perubahan
pada cahaya lilin tersebut, tetapi proporsinya tetap 1:50, hanya jumlahnya saja
yang berubah.
K.
Hubungan
Persepsi dengan sensari dalam system kerja otak
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Proses penginderaan berlangsung setiap saat, pada waktu
individu menerima stimulus melalui alat indera, yaitu melalui mata sebagia alat
penglihatan, telinga sebagai alat pendengar, hidung sebagai alat pembau, lidah
sebagai alat pengecapan, kulit pada telapak tangan sebagai alat perabaan.
Persepsi stimulus dapat datang dari luar, tetapi juga dapat datang dalam diri
individu sendiri.Tetapi sebagian besar stimulus datang dari luar individu yang
bersangkutan. Karena persepsi merupakan aktivitas yang integrated dalam diri
individu, maka apa yang ada dalam diri individu akan aktif dalam persepsi.serta
dapat dikemukakan karena perasaan, sedangkan sensasi dapat ditemukan pada waktu
proses menagkapnya stimuli.
Sensasi merupakan pendeteksi energy fisik yang di hasilkan
atau di pantulkan oleh benda-benda fisik, sel-sel tubuh yang melakuakan
penderteksi ini, organ inderawi ( mata, telinga, hidung, kulit dan jaringan
tubuh ) proses penginderaan menyadarkan kita akan adanya suara, warna, bentuk
dan elemen kesadaran yang lain. Tanpa sensasi kita tidak dapat menyentuh dalam
arti sesungguhnya dunia nyata.Tapi untuk membuat dunia yang mendera indera kita
menjadi sesuatu yang masuk akal.
proses sensasi dan presepsi itu berbeda. Dalam ungkapan lain
disebutkan,”sensasi Hialah penerimaan stimulus lewat alat indra, sedangkan
persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada didalam otak”. Meskipun
alat untuk menerima stimulus itu serupa pada setiap individu, interpretasinya
berbeda. Persepsi dipengaruhi oleh pengetahuan, hipotesis, dan
prasangka-prasangka serta sinyal-sinyal sersorik, misalnya: Ilusi.
- Saran
Diharapkan agar para Mahasiswa mampu
dan mengerti tentang jenis-jenis dari
sensasi
dan persepsi serta bagaimana proses terjadinya. Agar kita semua bisa lebih
berhati-hati didalam menyingkapi sesuatu yang ada di sekitar kita. Karena pola
sensasi dan persepsi itu kadang terjadi tanpa kita sadari, itu semua terjadi
dari proses apa yang kita lihat dan kita fikirkan. Sesasi dan persepsi itu
datangnya dari rangsangan stimulus yang ada didalam diri kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
- Jalaluddin Rahmat. 2008.
Psikologi Komunikasi. : Bandung Remaja Rosdakarya .
- Slameto. 2003. Belajar dan
Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
- Desmawati, Yeni. 2008. Resume
Matrikulasi Psikologi.
Palembang. PPs UNSRI.
- http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi#Pembedaan_dengan_sensasi